Minggu, 02 Desember 2012

PENDAYUNG BUSA di KERTAS HVS


Busa putih di sana;
Terhampar di atas kaki-kaki tak bersepatu;
Tergeletak pasrah di punggung Waduk Es;
Siap tampung gemuruh kerinduan yang tertahankan batas-batas;
Bahkan airpun tak mampu untuk meresap;
Dan anginpun manabisa menembusnya.

Dalam mati di siang yang dingin tapi membara;
Saat telungkup kirimkan nyanyian puisi cinta;
Datang menyusul merebah di atas debar yang telah terbayang terjadi;
Meniup pelan sekali seakan bergerak pingsan;
Dan entah kapan semua selimut kabut melayang lepas berserakan.

Parit-parit mengalirkan darah begitu deras;
Kelopak-kelopak menjerat mata yang tertutup;
Fentilasi tubuh terbuka meniupkan nafas yang mendesah dan memburu.

Sepuluh jemari menari tak henti tak terlewatkan,
Meliuk-liuk di tiap relung dan palung yang ada;
Bibirpun berlari dari bibir bicara sampai muara di tepi laut.
    Menciumi mahkota bunga dan pendengarannya;
        Menggigit tangkai kelapa dan nyiurnya;
            Tumpukan-tumpukan pasir telah terhisap habis;
                Juga bibir basah telaganya tersentuh dan terhisap juga;
                    Dan jiwa-jiwa di atas kertas hvs makin mengejang.

Kembali tangan mendayung  melambai-lambai di atas waduk;
Yang baling-baling dengan serabutnya entah kapan telah berputar juga;
Dan untuk  menggapai dalam tiap mimpinya.
Saat bintangmu di atas cakrawala;
Sebarkan riak-riak yang menusuk;
Meski kecil samar dan dayung pendek-pendek;
Tak sanggup bergerak cepat, mengkhawatirkan.

Dan Mataharimu seperti dulu terbalik lagi;
Alunan ombak menggoyang tak ampun;
Memutar pusing kepala sang pendayung, memualkan.

Terbalik lagi;
Mendayung dan mendayung dengan cambuk yang mendera;
Nafas semakin memburu-buru;
Dan ....... sampai tujuan juga.

Padahal garis finish masih garis start juga.

Di hamparan busa yang pasrah;
Para pendayung tampak mekar segar;
Dan kicauan burung-burung kembali terdengar indah;
Menunggu dan menunggu saat kembali lagi dan lagi.

                                                                                                                   Waduk Es di awal duabelas
                                                                                                                    By : Layuudhanko

0 komentar:

Poskan Komentar