Minggu, 02 Desember 2012

SERIBU KOTA SERIBU HATI


Pernah juga dikatakan kemarin dan dulu-dulu;
Meski kabut samarkan lirikan dalam sang dewi;
Dan bagi hati-hati;
Begitu dalam pengertiannya.

Selepas sengaja lemparkan sauh karetnya;
Selalu ngambang tak bertujuan;
Bergerak mengalir alunan ombak pergi;
Tanpa dasar yang menopangnya;
Sekedar bernafas, berjalan, tanpa berlari meski sekecil debu.

Telah berjalan melewati seribu kota;
Di sela kepakan-kepakan sayap Matahari dan Rembulan;
Bertanya tapi diam dan bisu;
Mencari bersama terpejamnya mata;
Namun hati yang selalu histeris di kehampaan;
Menjerit pada tiap-tiap waktu;
Dimana adanya.

Seribu kota seribu hati tersimpan di atas meja;
Selalu mengangkasa bersama hembusan angin;
Dan terdengar jelas namun begitu kabur bagi para pendengar;
Juga selembut selembar sutera milik permaisuri;
Meliuk-liuk indah mempesona dalam persembunyian;
Yang tak tersentuh mata sang maharaja;
Satu asa di jiwa keringnya;
Sekerdipanpun telah cukup;
Untuk melepas dahaga di musim yang selalu penghujan.

Tak terasa lelah juga bosan karena suatu keyakinan.
Seperti kisah sang musafir itu,
Yang berhenti di kota YUNANI;
Tersenyum di bawah tautan sebatang pohon 13;
Menembus lapisan langit ke 7;
Dan menghitung lalu lalang pejalan di kilometer 11.

Seribu kota seribu hati selalu mengumandang;
Sebagai kidung wajib di tiap angin berhenti bertiup.

Seribu mimpi menjelajah di seribu kota bersama;
Seribu tanya pada seribu hati disana;
Dalam tiap kesunyian dan kehampaan hati yang tak diam;
Jadikan satu tonggak sejarah di kebudayaan Yunani;
Padanya tertulis 130711.

                                                                                                             Kota Kuno, 27 Nopember 2012
                                                                                                             By : Layudhanko



0 komentar:

Poskan Komentar