Minggu, 18 November 2012

AIR BERBUIH DI PINGGIR WADUK



Dalam hari yang muda sekali meluncur dengan banyak membangun mimpi
Mengepit kuat-kuat di atas bola karet berjeruji besi
Laksana burung elang yang menukik menembus ganasnya angin
Dan embun dingin terasa darah yang memanas



Suara-suara letupan dari susunan besi itu berhenti
Menatap pada Timur dimana ia akan datang
Benar memang, cahaya yang memerah telah nampak
Di atas tiga roda berputar pelan, pasti

Berganti.........melempar pantat sang bidadari hati
Berdua menembus mimpi yang telah lama ada
Tangan hati cerita terpadu di atas angin dan kepulan karbon
Berhenti sama sekali di ruang tampungan hujan
Semuanya nekat untuk yang pertama

Dalam senyap siang yang penuh goresan itu
Melempar semua yang belum pernah dikenalnya
Diintipkannya topi itu di sela semak belukar tanpa ragu
Memohon untuk melepas benang sutera bekas jahitan karena luka


Bergandengan tangan mulai mendekat
Sepatu dan kaosnya terlepas satu-satu
Kaki-kaki kecil tercelupkan ke dalam waduk
Gerakkan kaki-kaki kecilnya naik turun ke samping juga
Dan air bergerak tak henti bergoyang
Sangat cepat buih terbentuk di atas riak-riaknya
Urat-urat kaki tak lagi kaku karena lama menunggu
Hati begitu lega merasakan indahnya nirwana di bayangan air itu
Belum cukup karena sifat kemanusiaannya, masih memainkan alunan riak
Dicobanya juga menari-nari di atas permukaan
Tapi kaki kecilnya mau lepas
Membiarkan kembali bergerak dengan berdiri di bibir waduk
Bergerak........bergerak, dan bergerak
Dan air beriak dan air berbuih
Menikmati semua keindahan yang terbentuk olehnya



Masih tetap berdiri pada pinggirnya
Sanggup juga tak henti jika saja jarum jam berhenti



Di pinggir waduk itu......
Kita pergi meninggalkan buih di atas busa empuknya

                                                                                                                           Karya : Layudhanko
                                                                                                                           Waduk Es, 13-01-2011



0 komentar:

Poskan Komentar