Rabu, 14 November 2012

SEPENGGAL WAKTU




Pejalan cerita telah tempuh empat puluh lebih
Langkah mantap teratur
Nafas dan darah lancar mengalir
Peluh menetes satu-satu
Asa yang entah sekedar bayang
Teranyam rapi pada langit langit khayal
Juga bunga dan bijinya

Paruh waktu kemudian
Sombong dan pongahnya dia
Melemparkan di sisi panas Matahari

Sendirian sungguh punya mata buta
Hati luka mulai busuk
Rusuk patah dan hilang, nafas palsu tersendat
Mata hati mati, terkubur ia!

Tapi dada tipisnya tengadah, digagahkan
Menawarkan kepura-puraan!



                                                                                                                        By: Layudhanko      

Kembanglimus, 10-10-2011

0 komentar:

Poskan Komentar